Selasa, 11 Juli 2017

Solid Gold Berjangka | Kehancuran ISIS Bisa Jadi Bencana Bagi Indonesia

PT SOLID GOLD BERJANGKA - Pasukan militan ISIS di Timur Tengah perlahan mulai menuju kehancuran.

Di satu sisi, ini jelas merupakan kemenangan bagi kemanusiaan, bukan hanya Suriah & Irak.



Namun, di sisi lain, runtuhnya kekhalifahan gadungan Abu Bakr al-Baghdadi ini jg berisiko menjadi bencana.

Didirikan pada 9 April 2013, kelompok teror ini mempunyai misi untuk mendirikan negara Islam dlm versi mereka sendiri.

Secara de facto, negara itu dapat dikatakan sudah berdiri.

Mereka mempunyai wilayah & penduduk, meski didapatkan dgn cara paksa yg brutal.

Belum lagi, wilayah yg mereka kuasai di akhir 2014 sempat mencapai kurang lebih 100 ribu kilometer persegi.

Gawatnya, wilayah itu dikawal oleh pasukan militan yg siap menjaga 'kedaulatannya'.

Tidak ada yg tahu pasti jumlah pasukan itu, tapi berbagai estimasi menunjukkan angka puluhan hingga ratusan ribu.

Turut dibantu oleh 'jihadis' dari seluruh dunia, termasuk Indonesia, para militan itu berhadapan dgn tentara pemerintah Irak & Suriah serta sejumlah kelompok pemberontak lain yg tidak sepaham dgn ideologi brutal ISIS.

Bertempur melawan berbagai pasukan sekaligus, ditambah gempuran koalisi internasional yg dipimpin Amerika Serikat sbg respons pembunuhan wartawan James Foley, kini ISIS telah kehilangan 60 persen dari wilayah yg dikuasainya pada 2014.

Di Irak, pemerintah telah resmi menyatakan kemenangan di Mosul, kota tempat Baghdadi mendeklarasikan kekhalifahannya & memulai gerakan merebut wilayah negara tersebut.

Sementara di Suriah, pasukan koalisi telah menembus tembok Rafiqa yg melindungi Raqqa ibu kota de facto ISIS.

Meski masih ada beberapa wilayah lain yg dikuasai, sifatnya tidak terlalu signifikan.

Hilangnya dua titik kunci ini jelas menandakan kejatuhan ISIS & hancurnya kekhalifahan Abu Bakr al-Baghdadi.

Masalahnya, keruntuhan "negara" itu bukan berarti keberadaan ISIS telah berakhir.

Mereka hanya akan berubah menjadi bentuk yg baru, atau mungkin kembali ke bentuk lamanya.

Riwayat ISIS berawal dari invasi Soviet di Afghanistan 1979 silam.

Saat itu, seorang 'jihadis' bernama Abu Musab al-Zarqawi turut bertempur bersama pendiri Al-Qaidah, Osama bin Laden.

Setelah perang tersebut selesai, Al-Qaidah meneruskan misi untuk melawan dunia Barat & melancarkan serangkaian aksi teror, termasuk serangan 11 September di Amerika Serikat.

Serangan itulah yg membuat Negeri Paman Sam mengirimkan pasukannya ke Afghanistan, tempat Osama & Zarqawi menjalankan Al-Qaidah, pada 2001.

Osama melarikan diri ke Pakistan sementara Zarqawi kemudian melarikan diri ke Irak.

Sementara Osama bersembunyi, Zarqawi menjadi militan terkemuka di Irak karena bertempur dgn hebat melawan Amerika Serikat yg lagi-lagi menginvasi Timur Tengah.

Setelah kejatuhan Saddam Hussein, pada 2004, Zarqawi mendirikan Al-Qaidah di Irak (AQI) yg kemudian menjadi ISI atau Negara Islam Irak, cikal bakal ISIS.

Pada 2006, Zarqawi tewas dlm serangan udara AS & negara tersebut meninggalkan Irak pada 2011.

Di saat yg sama, gerakan Arab Spring muncul & Suriah menjadi tidak stabil menyusul tindakan opresif Bashar al-Assad terhadap para demonstran.

Saat itu, Baghdadi melanjutkan jejak Zarqawi & membawa ISI mulai memasuki Suriah untuk membantu cabang Al-Qaidah di negara tersebut, Jabhat al-Nusra.

Baca Juga : Penipuan Modus Daftar Polisi

Seiring prosesnya, ISI yg bergerak di bawah komando Baghdadi menjadi semakin kuat & berpengaruh di Suriah, hingga akhirnya berdirilah Negara Islam Irak & Suriah, kelompok yg saat ini dikenal sbg ISIS.

Setelah itu, Al-Qaidah sendiri memutuskan hubungan dgn ISIS karena kelompok tersebut dinilai terlalu sadis.

Gerombolan brutal yg kerap melakukan eksekusi massal itu pun terus berkembang hingga akhirnya mulai jatuh pada 2017.

Keruntuhan "negara" bentukan Baghdhadi ini kemungkinan besar akan direspons ISIS dgn kembali ke bentuk lamanya, melakukan serangan-serangan teror ala Al-Qaidah.

Mereka tidak akan lagi perang terbuka karena sudah tidak mempunyai pasukan yg besar & persenjataan mumpuni.

Hal ini berisiko menjadi bencana karena dlm bentuk sel kelompok teror, bukan negara, mereka akan lebih sulit dideteksi & bisa melakukan serangan di mana saja.

Tidak melawan pasukan pemerintah, mereka bisa melancarkan aksi teror terhadap warga sipil.

Celakanya lagi, serangan teror itu bisa jadi tidak hanya terjadi di Irak & Suriah.

Saat ini pun, serangkaian aksi teror atas nama ISIS sudah banyak terjadi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Mereka mungkin hanya jaringan sel kecil atau pelaku lone wolf, teroris yg bergerak dgn inisiatif sendiri atas alasan ideologis tanpa kaitan langsung dgn organisasinya.

Namun, dgn dukungan para pasukan yg kehilangan wilayah di Timur Tengah ini, ancaman yg mereka berikan bisa kian meningkat.

Meski tidak ada angka pasti, hingga 2016 lalu, diperkirakan ada 27 ribu warga asing yg bergabung dgn ISIS di Irak & Suriah.

Dari angka itu, diperkirakan ada ratusan warga Indonesia yg turut bertempur di Timur Tengah, termasuk Bahrun Naim yg diyakini mengomando serangan teror Thamrin, awal 2016 lalu.

Kehancuran ISIS di Timur Tengah bakal memaksa para pasukannya yg berhasil melarikan diri untuk kembali ke negara masing-masing.

Ditambah dgn tren serangan teror yg meningkat belakangan ini, gelombang 'mudik' teroris itu bisa jadi memperkuat jaringan di negara asal.

Belum lagi, pengalaman perang yg dibawa oleh para militan itu bisa membuat alat-alat teror semakin canggih.

Ini mirip dgn fenomena serangan teror awal 2000-an di Indonesia, di mana Bali dua kali diguncang oleh aksi bom mematikan.

Saat itu, jaringan Jamaah Islamiyah yg bertanggung jawab atas perbuatan keji itu didukung oleh para alumni perang Afghanistan.

Mereka membawa pengalamannya untuk membuat bahan peledak dlm skala besar.

Jelas, Indonesia menjadi bagian dari negara-negara yg terancam oleh risiko bencana teror lebih luas ini.

Pemerintah harus cepat tanggap.

(Prz - PT Solid Gold Berjangka)

0 komentar :

Posting Komentar