Senin, 18 September 2017

Solid Gold | Desa Ini Buat Kode QR Raksasa dari Pohon, Apa Fungsinya?



Solid Gold Berjangka : Xilinshui - Jika dilihat sepintas, gambar tersebut terlihat seperti labirin biasa. Namun bagi beberapa orang, foto tersebut langsung mengingatkannya akan kode QR atau dikenal dengan QR code.

Kode QR raksasa itu terdapat di Desa Xilinshui yang terdapat di provinsi Hebei, China. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan akan Xilinshui bagi orang-orang yang melihat dan memindai kode raksasa itu.

Dikutip dari BBC, Sabtu (16/9/2017), kode QR tersebut terbuat dari 130.000 pohon juniper China dan bisa dipindai dari ketinggian dengan menggunakan ponsel.

Tidak diketahui dengan jelas berapa ketinggian yang dibutuhkan seseorang untuk dapat memindai kode QR itu. Namun, pengunjung yang berhasil memindainya akan terhubung ke akun parwisata desa di WeChat -- media sosial yang terkenal di China.

Menurut laporan South China Morning Post, kode tersebut memiliki panjang masing-masing sisi 227 meter dan tinggi pohonnya berkisar antara 80 cm hingga 2,5 m.

Pada 2015, Xilinshui dinobatkan sebagai desa terindah di Hebei. Atas gelar tersebut, Xilinshui menerima hibah pembangunan 1,1 dari pemerintah China.

Kode QR Populer Digunakan di China

Warga di China semakin banyak yang mennggunakan Kode QR dalam kehidupan sehari-hari mereka, terutama untuk melakukan pembayaran dengan cepat.

Kode QR yang terbuat dari pola kitak hitam dan putih, dapat menyimpan berbagai informasi, mulai dari harga hingga instruksi memasak makanan.

Sejumlah pelayan di sana terlihat menggunakan bros dengan Kode QR yang disematkan pada kemejanya. Hal itu memudahkan para pengunjung untuk memberikan tip hanya dengan memindai kode tersebut.

Bahkan, beberapa pengemis pun kedapatan memiliki kode QR, sehingga mereka yang tak membawa uang tunai masih dapat memberikan uangnya kepada mereka.

Kode QR raksasa sebelumnya pernah digunakan untuk menghidupkan sebuah bisnis. Pada 2012 pengembang asal China, Vanke, membangun kode QR seluas 6.400 meter persegi di dekat lokasi pembangunan perumahan di Hefei, Provinsi Anhui.

Saat kode QR itu dipindai, muncul pemandangan dan suara yang dirancang untuk menarik perhatian calon pembeli properti.

Baca juga Artikel - artikel Keren & Terupdate kami lainnya di :

    Wordpress.com : Solid Gold
    Weebly.com : PT Solid Gold Berjangka
    Blogdetik.com : Solid Gold
    Strikingly.com : Solid Gold Berjangka
    Wixsite.com :Solid Gold
    jigsy.com : PT Solid Gold Berjangka
    Spruz.com : Solid Gold Berjangka
    Bravesite.com : PT Solid Gold Berjangka

(Zmrn - Solid Gold)

Posted By PT Solid Gold Berjangka Pusat 15.50

Kamis, 14 September 2017

Takut dikritik, Suu Kyi pilih absen dari Sidang Umum PBB

PT SOLID GOLD BERJANGKA - Di tengah tragedi pembantaian terhadap etnis minoritas muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, kecaman terhadap peraih penghargaan Nobel Perdamaian kini didapuk menjadi Penasihat Negara Myanmar, Aung San Suu Kyi, terus berdatangan.



Diduga karena itu, anak dari pahlawan kemerdekaan Myanmar, Jenderal Aung San, memilih menghindar dari Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Dilansir dari laman BBC, Suu Kyi memutuskan tidak bakal hadir dlm Sidang Umum PBB digelar pekan depan.

Konon kalau dia datang bakal dikritik habis-habisan lantaran tidak mampu menangani kekerasan terhadap etnis Rohingya dilakukan pasukan Myanmar.

"Penasihat Negara tidak akan menghadiri sidang umum PBB," kata juru bicara Suu Kyi, Zaw Htay.

Sayang Zaw tidak memberi penjelasan mengapa Suu Kyi urung hadir dlm Sidang Umum PBB.

Padahal hari ini Dewan Keamanan PBB bakal menggelar rapat membahas krisis orang Rohingya di Myanmar.

Baca Juga : Simpatisan Rohingya Retas Situs Federasi Beras Myanmar | Solid Gold Berjangka

Pemerintah Myanmar menyangkal mereka memburu & membantai etnis Rohingya, dgn dalih menumpas gerakan militan Tentara Penyelamat Rohingya Arakan (ARSA).

Anggota ARSA menyerbu pos pemeriksaan di perbatasan pada 25 Agustus dgn senjata ala kadarnya, menyebabkan 12 orang tewas.

Tentara Myanmar bereaksi dgn mengirim ribuan bersenjata lengkap.

Mereka jg menolak pengajuan gencatan senjata diajukan ARSA.

Argumen Myanmar dibantah oleh Kepala Komisi Hak Asasi Manusia PBB, Zeid Raad al-Hussein.

Menurut Zeid, perlakuan pasukan Myanmar terhadap etnis Rohingya lebih mengarah ke pembersihan etnis (genosida) ketimbang operasi militer menumpas pemberontak.

Sebab, dari fakta-fakta dikumpulkannya, serdadu Myanmar jg menyasar warga sipil Rohingya, sekaligus membakar seluruh perkampungan mereka.

(Prz - PT Solid Gold Berjangka)

Posted By PT Solid Gold Berjangka Pusat 13.22

Rabu, 13 September 2017

PBB: Krisis Myanmar adalah pembersihan etnis Rohingya

PT SOLID GOLD BERJANGKA - Kepala Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Zeid Ra'ad al-Hussein, mengatakan pemerintah Myanmar benar-benar tengah melakukan pembersihan etnis terhadap warga Muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine.



Tak hanya itu, al-Hussein jg menyatakan perlakuan pemerintah Myanmar terhadap kaum minoritas itu benar-benar telah melanggar hukum internasional.

"Terjadi pembunuhan di luar hukum yg ekstrem & kekejaman yg konsisten, seolah pemerintah menggunakan cara ini untuk memindahkan secara paksa sejumlah besar orang agar tidak lagi kembali ke tempat asalnya," kata al-Hussein di hadapan Dewan HAM PBB di Jenewa.

"Situasi ini merupakan contoh nyata tentang pembersihan etnis," tambahnya.

Seperti diketahui, lebih dari 300.000 orang telah melarikan diri dari Myanmar ke Bangladesh sejak 25 Agustus lalu untuk mencari perlindungan dari serangan yg terus dikerahkan oleh militer Myanmar terhadap kaum Rohingya maupun desa mereka.

Sejak saat itu, para pengungsi Rohingya memberi kesaksian terhadap apa-apa yg telah menimpa mereka kepada wartawan & kelompok hak asasi manusia.

Mereka mengaku tentara Myanmar & penduduk setempat telah membakar rumah-rumah mereka hingga rata dengan tanah & membunuh warga Rohingya termasuk wanita & anak-anak.

Meski demikian, pejabat di Myanmar membantah dengan mengatakan warga Muslim Rohingya telah membakar rumah beserta desa mereka sendiri.

"Klaim itu merupakan penyangkalan atas kenyataan yg sebenarnya terjadi di sana," tegas al-Hussein.

Komentar al-Hussein ini menambah daftar kritik di mata internasional terhadap krisis kemanusiaan di Negara Bagian Rakhine yg dilakukan militer Myanmar.

Pemimpin negara Aung San Suu Kyi jg menerima kritikan serupa karena terus-terusan bungkam tanpa mengambil tindakan apapun untuk menghentikan kekejaman militernya.

(Prz - PT Solid Gold Berjangka)

Posted By PT Solid Gold Berjangka Pusat 11.59

Selasa, 12 September 2017

Solid Gold | Siswa SMP Banyumas Kini Hanya Libur Sehari dalam Seminggu



Solid Gold |  Purwokerto – Seluruh Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, mulai Senin, 11 September 2017 ini kembali bersekolah enam hari.  Hal itu menyusul terbitnya Surat Edaran (SE) Dinas Pendidikan Banyumas tentang Pelaksanaan Hari Sekolah pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) pekan lalu.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Purwadi Santosa mengatakan SE bernomor 423.5/3709/2017 itu dalam salah satu poinnya menginstruksikan agar sekolah yang kadung menerapkan lima hari sekolah kembali ke program enam hari.

Menurut Purwadi, SE itu adalah adalah tindak lanjut dari Peraturan Presiden Nomor Nomor 87 tentang Penguatan Pendidikan Karakter di daerah. Selanjutnya, SE ini akan diperkuat dengan Peraturan Bupati (Perbup) Banyumas.

"Pak Bupati meminta untuk menyusun Perbup untuk menindaklanjuti Perpres tersebut. Sebelum Perbup jadi, (sekolah) diminta kembali enam hari," kata Purwadi, Senin (11/9/2017).

Purwadi menjelaskan, dari 158 SLTP di Banyumas, 45 di antaranya telah melaksanakan program lima hari sekolah. Sementara, 60 sekolah lainnya baru tahap uji coba.

"Yang resmi sih sudah ada 45-an sekolah. Yang sekadar uji coba juga ada," dia menambahkan.

Dia juga meminta agar sekolah-sekolah yang telah melaksanakan program lima hari sekolah menyosialisasikan kebijakan enam hari sekolah itu kepada orangtua atau wali siswa. Dalam Pasal 9 Perpres itu menyebut, penetapan hari sekolah ditentukan masing-masing satuan pendidikan atau komite sekolah atau madrasah.

"Kebijakan yang diambil itu agar orangtua wali siswa tahu pendidikan karakter dan agar tidak ada informasi simpang siur," ujarnya.

Dia menegaskan, melalui penerbitan SE tersebut, SE Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas Nomor 423.5/2694/2017 tertanggal 13 Juli 2017 yang membebaskan sekolah di Banyumas menerapkan kebijakan 5 hari sekolah otomatis dicabut atau tidak berlaku lagi.

Dia juga berharap dengan keluarnya SE dan kembalinya siswa SMP ke program lima hari sekolah akan meredam polemik Full Day School (FDS) di Banyumas. Namun, ia pun berpesan kepada orangtua siswa agar lebih memperhatikan anaknya seusai waktu luang sekolah. Dengan begitu, orangtua juga turut berkontribusi dalam pembangunan karakter.

Seperti juga di beberapa daerah lainnya, penerapan kebijakan lima hari sekolah atau Full Day School (FDS) di Banyumas menuai protes dari berbagai elemen masyarakat, terutama kalangan nahdliyin.

FDS dinilai mengancam lembaga pendidikan madrasah diniyah dan pesantren. Puncaknya, pada awal Agustus lalu puluhan ribu warga NU menggelar demonstrasi menuntut agar kebijakan FDS dicabut.


Baca juga Artikel - artikel Keren & Terupdate kami lainnya di :

    Wordpress.com : Solid Gold
    Weebly.com : PT Solid Gold Berjangka
    Blogdetik.com : Solid Gold
    Strikingly.com : Solid Gold Berjangka
    Wixsite.com :Solid Gold
    jigsy.com : PT Solid Gold Berjangka
    Spruz.com : Solid Gold Berjangka
    Bravesite.com : PT Solid Gold Berjangka

(Zmrn - PT Solid Gold Berjangka)

Posted By PT Solid Gold Berjangka Pusat 08.41

Selasa, 05 September 2017

Foto Satelit Musnahnya Desa Rohingya

PT Solid Gold Berjangka - Kelompok pembela hak asasi Human Right Watch menyerukan pemerintah Myanmar untuk mengizinkan pemantau independen menyelidiki peristiwa kekerasan di Negara Bagian Rakhine yg menimpa warga muslim Rohingya.



HRW jg merilis sejumlah foto memperlihatkan sejumlah desa di Rakhine musnah dibakar.

"Foto satelit terbaru ini memperlihatkan musnahnya sebuah desa muslim & ini menandakan parahnya kerusakan di Rakhine, bahkan bisa jadi lebih buruk dari yg dibayangkan," kata Direktur HRW untuk Asia Phil Roberteson dlm pernyataannya.

Foto yg diambil pada 31 Agustus di Desa Chein Khar Li di sebelah utara Rakhine itu memperlihatkan lebih dari 700 bangunan di san hangus terbakar atau sekitar 99 persen dari seluruh desa.

"Ini hanya satu desa dari 17 lokasi tempat kebakaran terjadi," kata Robertson.

Kabar mengenai sejumlah desa yg dibakar, diduga dilakukan oleh militer Myanmar, jg pernah muncul dlm laporan hasil penyelidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun lalu.

Pada 27 Agustus lalu militer Myanmar & warga lokal bersenjata diduga menggelar operasi besar-besaran pembantaian terhadap muslim Rohingya.

"Pembantaian itu berlangsung kira-kira selama lima jam, dari pukul 14.00 hingga 19.00," kata laporan Fortify Rights.

Sementara kantor berita Reuters menuturkan, lebih dari 2.600 desa dibumihanguskan di Rakhine.

Peristiwa ini dianggap kekerasan terparah dialami minoritas muslim Rohingya selama beberapa dekade.

Baca juga Artikel - artikel menarik kami lainnya di :
(Prz - PT Solid Gold Berjangka)

Posted By PT Solid Gold Berjangka Pusat 10.56

Rabu, 30 Agustus 2017

PT Solid Gold Berjangka | Apa Hubungan Ketua Saracen dengan Prabowo? Ini Kata Rijal Kobar



PT Solid Gold Berjangka | Jakarta - Ketua Saracen, Jasriadi, mengakui dirinya merupakan simpatisan calon presiden Prabowo Subianto dalam Pilpres 2014. Namun, apakah ada kaitan langsung Prabowo dan Jasriadi?

"Kalau menurut saya hanya simpatisan. Semua rakyat punya hak dari Sabang sampai Merauke untuk menjadi seorang simpatisan. Wajar-wajar saja dia (Jasriadi) simpatisan," kata Rijal Kobar, eks narapidana yang divonis atas kasus ujaran kebencian di media sosial

Rijal yang ditangkap jelang aksi 212, 2 Desember 2016 itu, mengakui dirinya pernah bertemu Jasriadi pada akhir Juli 2016. Pertemuan dibalut silaturahmi akbar dan digelar di Masjid Al Husna, Jakarta Utara.

"Silaturahmi akbar dengan masyarakat Jakarta Utara saja, tidak hanya simpatisan (Prabowo). Enggak ada hubungan dengan silaturahmi Saracen," kata Rijal.

Jasriadi langsung datang dari Riau. Pertemuan saat itu, kata Rijal, berdekatan dengan momen Pilkada Banten.

Rijal mengisahkan, saat itu Jasriadi mewacanakan untuk membentuk grup Saracen. Sekaligus menawarkan untuk mencantumkan struktur.

"Saya bilang ke dia, silakan. Tapi harus ada komunikasi dengan orang-orang yang akan dicantumkan namanya," kata Rijal.

Setelah itu, Rijal mengaku tidak pernah lagi bertemu dengan Jasriadi. Jelang aksi 212, Rijal ditangkap atas sangkaan ujaran kebencian di media sosial. Dia divonis 6 bulan dan diketuk Juni 2017 potong massa tahanan. Saat itu pula Rijal menghirup udaran bebas.

"Saya tekankan, tidak ada saya menyuruh nama-nama itu masuk di struktur," Rijal membantah.

Adapun perkenalan antara Jasriadi dan Rijal Kobar bermula dari aktivitas sesama simpatisan capres di media sosial. Perkenalan berlanjut di "kopi darat" di Jakarta Utara.

Terkait dengan foto Mayjen Purnawirawan Ampi, Eggi Sudjana, dan Rijal Kobar yang dituding pertemuan Saracen, Rijal menampiknya.

"Itu foto saat Pilpres 2014, tidak ada hubungannya dengan Saracen," bantah Rijal.


Awal Pertemanan

pekan lalu, Ketua Umum Saracen Jasriadi mengaku merupakan mantan simpatisan calon yang gagal pada pemilihan presiden (Pilpres) 2014. Dari sinilah, guru privat ini kemudian bertemu dan menjalin pertemanan dengan orang-orang yang disebut seide dengannya.

"Perkenalan kita di medsos, waktu itu kan ada pilpres 2014. Kebetulan kita simpatisan salah satu calon yang gagal, ya," ujar Jasriadi

"Nah, di situ kita kenal dengan yang seide, dan dari situ setiap yang seide ya kita kenal," dia melanjutkan. Tapi, Jasriadi mengklaim pertemanan tersebut tidak terjalin kuat, hanya sebatas perkawanan di media sosial.

Meski hanya pertemanan di media sosial, Jasriadi mengaku pernah kopi darat alias bertemu pada 2016.

"Waktu itu 2016 ada teman saya ngajak kopdar namanya AS. Pas momen silaturahmi akbar di situ juga kebetulan kita kopdar bareng. Sebatas itu, setelah itu lupa lagi," kata dia.

Menurut Jasriadi, pertemuan besar-besaran itu terjadi saat Pilkada DKI Jakarta. Namun, dia mengaku lupa siapa saja yang hadir pada kesempatan itu.

"Itu pertemuannya saya enggak tahu persis yang silaturahmi akbar, di situ ada ceramah cara memilih pemimpin. Tapi saya lebih detailnya lupa, karena lama ya, dan itu keluar di media ya, itu sekitar bulan enam atau tujuh gitu. Itu juga tak ada sangkut pautnya dengan Saracen," ujar Jasriadi.

Baca juga Artikel - artikel Keren & Terupdate kami lainnya di :

    Wordpress.com : Solid Gold
    Weebly.com : PT Solid Gold Berjangka
    Blogdetik.com : Solid Gold
    Strikingly.com : Solid Gold Berjangka
    Wixsite.com :Solid Gold
    jigsy.com : PT Solid Gold Berjangka
    Spruz.com : Solid Gold Berjangka
    Bravesite.com : PT Solid Gold Berjangka

Posted By PT Solid Gold Berjangka Pusat 12.14

Senin, 28 Agustus 2017

Solid Gold Berjangka | Ternyata, Skandal First Travel Sudah sejak 2015


PT Solid Gold Berjangka | Jakarta - Jumilah merindukan Baitullah. Perempuan 60 tahun itu terpanggil untuk bersujud menghadap KaKbah, mendekatkan diri pada Gusti Allah. Namun, uang pensiunan almarhum suaminya, ditambah hasil berdagang di pasar kaget, tak jua cukup untuk membiayainya umrah, apalagi naik haji.

Baginya, pergi ke Mekah naik kapal terbang adalah impian yang terlalu tinggi, bak di awang-awang.

Hingga suatu hari, ia menemukan titik terang. Obrolan dengan sesama pedagang memperkenalkannya dengan First Travel. Konon, biro perjalanan itu bisa mewujudkan mimpi umrah dengan harga murah. "Hanya" Rp 14,3 juta!
"Teman saya sesama pedagang waktu itu baru pergi umrah pakai First Travel, katanya murah, pelayanannya bagus," kata Jumilah kepada Liputan6.com.

Sejak itu, tiap Sabtu dan Minggu pagi, Jumilah kian bersemangat mendorong dua gerobaknya kayunya, bergantian, menuju lapak. Jaraknya memang tak jauh dari rumahnya di Bekasi Timur, tapi lumayan menguras tenaganya yang kian sepuh.

Dagangan berupa pakaian ia jajakan sejak pukul 07.00 hingga 10.00. "Lumayan, sekali dagang bisa menyisihkan Rp 20 ribu," kata perempuan berjilbab itu.

Dari hasil keuntungan yang dikumpulkan sejak 2014, ditambah hasil arisan dan menguras celengan, terkumpullah Rp 5 juta pada tahun 2015.

Dengan mengucap bismillah, Jumilah menyetorkannya ke First Travel, sebagai uang muka. Pelunasan baru dilakukan pada Januari 2016. "Saya senang sekali waktu dijanjikan berangkat umrah tahun 2017," kata dia.

Namun, hingga April 2017, kepastian tak kunjung didapat. Ia beberapa kali datang ke kantor First Travel, yang di Depok, Jawa Barat, dan Jalan TB. Simatupang, Jakarta. Sejumlah karyawan yang menemuinya punya jawaban senada: "Sabar ya, Bu… Insya Allah, berangkat."

Namun, tak lama kemudian, First Travel mengeluarkan pengumuman. Calon jemaah diminta membayar biaya tambahan Rp 3 juta agar bisa diberangkatkan Juni 2017.

Merasa ada harapan, Jumilah kembali menguras uang simpanannya. Total Rp 17,3 juta dibayarkan. Namun, bulan Juni berakhir, ia tak kunjung diberangkatkan ke Tanah Suci.

Senasib dengan Jumilah adalah Surmawati.

Kian sepuh, makin kuat niatnya pergi ke Tanah Suci. Meski sudah nenek-nenek, ia terus bekerja keras demi mewujudkan keinginannya itu.

Pagi hingga siang, Surmawati bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sore harinya, dia giliran mengurus kebun milik sang majikan. Dari hasil jerih payahnya itu, uang Rp 5.000 ia sisihkan setiap hari.

Bertahun-tahun, recehan demi recehan dikumpulkan. Setelah dirasa cukup lalu disetorkan ke First Travel.

Warga Padang itu dijanjikan pergi pada awal Juni 2017. Namun, tak jadi-jadi. Ia diminta membayar tambahan Rp 2,5 juta agar bisa umrah saat Ramadan. Lagi-lagi, janji tinggal janji.

Kini usia Surmawati sudah lebih dari 60 tahun. Di masa senjanya, ia harus mengalami patah hati dan menanggung rugi.

Total ada 58.682 anggota jemaah yang kini ketar-ketir menanti kepastian kapan berangkat umrah. Tak jelas juga di mana uang mereka berada.

Perusahaan rekanan pun buntung

Di sisi lain, utang First Travel menggunung. Direktur Tindak Pidana Umum Brigadir Jenderal Pol. Herry Rudolf Nahak mengatakan, dari para jemaah yang belum diberangkatkan saja, biro perjalanan itu diduga berutang setidaknya Rp 848,7 miliar.

Belum lagi utang ke sejumlah rekanan. Ada uang tiket yang belum dibayar sebesar Rp 85 miliar, juga ke agen yang menyiapkan visa Rp 9,7 miliar.

First Travel juga berutang ke penyedia hotel di Mekah dan Madinah.
"First Travel telah berutang hampir US$ 2 juta (sekitar Rp 25 miliar) kepada kami," kata pengusaha Mesir, Ahmed Saber Amin, kepada Liputan6.com.

Sudah dua bulan ini ia ada di Indonesia, untuk menuntut pertanggungjawaban bos First Travel, Andika Surachman (32) dan Anniesa Desvitasari Hasibuan (31). Mereka ditangkap petugas Bareskrim Polri pada 9 Agustus 2017, disusul Siti Nuraidah Hasibuan (26) alias Kiki Hasibuan, adik Anniesa, yang merupakan direktur keuangan.

Ahmed Saber mengungkapkan kerja sama bisnisnya dengan First Travel bermula sejak 2015. Awalnya hanya soal penyediaan penginapan. Kala itu, pembayaran berlangsung lancar.

"Pada 2016 dia ambil satu paket: hotel, jemputan bandara, airport tour guide yang disebut muntawif, dan tak ketinggalan, makanan," dia menjelaskan.
Di daftar pesanan First Travel ada sejumlah hotel berbintang 3, 4, dan 5. "Untuk VIP di Hotel Raffles dan Intercontinental Hotel di Mekah, tempat dia bawa artis Syahrini, Julia Perez (alm), dan Ria Irawan. Semua itu belum dibayar," tambah Ahmed Saber kesal.

Pemilik perusahaan wisata 'Diar Al Manasil' di Mekah itu mengungkapkan, pembayaran First Travel mulai tersendat pada 2016. Utang pun menumpuk. "Mulai Maret 2017 First Travel berhenti menyetor pembayaran sama sekali," kata dia.

Suatu ketika, Ahmed Saber mengaku dihubungi Andika. "Kali terakhir waktu dia ditangkap, Andika bilang, 'Mr. Ahmed, tolong bebaskan saya. Nanti saya akan bayar semua utang saya. Kita selesaikan secara kekeluargaan'."
Kisruh Sudah Sejak 2015

Selain yang tak kunjung diberangkatkan, banyak jemaah juga mengaku ditelantarkan. Salah satunya adalah rombongan yang gagal diterbangkan pada Maret 2017.

Saat itu, ratusan jemaah umrah dari Jakarta, Cirebon, dan Surabaya tercecer di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Mereka kemudian diinapkan di hotel sekitar bandara. Tiga hari tak terurus ditambah kecewa berat, sebagian dari mereka jatuh sakit.

Pihak First Travel membantah kabar telah menelantarkan jemaah. "Berita tersebut tidak benar. Yang benar, jemaah diundur keberangkatannya disebabkan oleh visa yang masih dalam proses," kata Niru Anita Sinaga, kuasa hukum, dalam jumpa pers 25 Maret 2017.
Sejatinya awan gelap telah mengepung First Travel jauh sebelum itu.

Kekacauan bahkan sudah terjadi sebelum nama Anniesa Hasibuan "berkibar" di New York Fashion Week (NYFW). Oleh sejumlah media, dia dihebohkan mencetak sejarah baru, sebagai desainer pertama yang memamerkan busana muslim di ajang bergengsi tersebut. Belakangan terungkap, itu cuma klaim kosong.

Kepada Liputan6.com, seorang mantan staf First Travel mengungkapkan, skandal ini sebenarnya sudah mulai meletik sejak Desember 2015. Namun, persoalan belum ramai diekspos media.

Kala itu, sebanyak 225 anggota jemaah umrah sudah ramai-ramai protes. Mereka yang membayar biaya reguler Rp 26,5 juta ternyata hanya mendapat fasilitas umrah promo yang saat itu harganya dibanderol tak sampai Rp 13 juta.

Janji menginap di hotel bintang empat dan lima pun tak ditepati. Para jemaah kaget bukan kepalang saat mendapati kondisi penginapan mereka.

"Hotelnya tak ada pelang namanya. Kamar mandinya bocor. Sampai di sana, para jemaah tak bisa langsung masuk kamar, mereka berceceran di lobi," kata mantan karyawan yang minta dirahasiakan identitasnya itu.

Suatu ketika, ada seorang nenek terpisah dari rombongan. Ia tersasar. Seorang warga Arab Saudi yang menemukannya sedang kebingungan, lantas mengantar ke hotel yang namanya tertera di tanda pengenal.

"Namun, keterangan di name tag dan hotel di mana mereka menginap tidak sesuai," kata sumber itu.

Persoalan jadi makin kacau, karena saat itu hanya ada dua tour leader yang memandu para jemaah. Dan mereka tak bisa ngomong Arab maupun Inggris.

"Yang paling fatal, dalam perjalanan pulang, jemaah sempat telantar di Bandara Jeddah. Ternyata karena pesawatnya delay, dan pemandu yang tak bisa berbahasa Inggris tak mengetahuinya, meski pengumuman sudah disampaikan lewat pengeras suara."

Para jemaah yang kecewa menuntut pengembalian selisih uang yang mereka bayarkan, dibanding dengan fasilitas yang mereka terima. Mediasi sempat dilakukan tiga kali. Namun, tak ada titik temu.

"Saat itu belum ada perhatian sebesar saat ini. Kasus tersebut seakan menguap begitu saja," sang karyawan menambahkan.

Buntut dari kejadian tersebut, pada Februari 2016, Andika dan Anniesa datang mendadak ke kantor First Travel di kawasan Kuningan, Jakarta. Seluruh staf dikumpulkan di ruang rapat.

Seorang pejabat dari divisi legal membagi-bagikan kertas. Isinya pernyataan bahwa "karyawan tidak akan menyebarluaskan rahasia kantor dan siapa yang melanggar akan dituntut secara hukum."

Surat pernyataan itu wajib ditandatangani setiap karyawan. "Saat itu, saya sudah curiga ada yang tak beres dengan First Travel," ujar sumber itu.
Utang Dunia Akhirat

Alkisah, First Travel dibangun Andika-Anniesa dari nol.

"Kami memulai dari usaha pinggiran, jual pulsa, burger, seprai, bantal. Hingga 2009 kami membuat CV di bidang travel," demikian diungkap Andika dalam video profil First Travel.

Usaha mereka jatuh bangun. Rumah peninggalan orangtua Anniesa digadaikan untuk modal. Sempat berantakan, rumah itu disita dan dilelang bank.

Hengkang dari rumah warisan, mereka mengontrak rumah petak. Usaha First Travel dijalankan dengan strategi baru, door to door, dari instansi ke instansi.

Sebagai pemilik sekaligus tenaga pemasaran, Anniesa dan Andika kerap mondar-mandir Depok-Jakarta, pakai motor butut pinjaman adik, untuk menawarkan paket tur dan umrah.

Andika menunggu di parkiran, Anniesa naik ke atas menyerahkan proposal.

"Tangan kami sampai belang, penampilan kucel, bau asap gara-gara naik motor Depok-Jakarta," kata Andika.

Saat susah tak jarang mereka makan hanya nasi campur mi instan yang kuahnya sengaja dibuat banjir, biar cukup dimakan seluruh keluarga.

Harta habis, usaha tak kunjung ada hasil. Mereka malah jadi korban penipuan. Putus asa sempat menghampiri.

"Kami sempat mau bunuh diri, mengakhiri semua, dari atas sebuah mal di Jakarta," imbuh Anniesa. "Kami dicemooh, dihina, dibilang orang miskin, nggak mungkin bisa hidup. Kami bertekad jangan sampai kami dihina. Itulah penyemangat kami.”

Panas hati itu melahirkan strategi baru: menawarkan paket umrah murah dengan skema ponzi.

Dan... bum!

Banyak, dan semakin banyak jemaah tergiur. Kehidupan Andika-Anniesa pun berubah 180 derajat. Hanya dalam beberapa tahun mereka tajir melintir.

Rumah mewah dibangun di Sentul. Gayanya Eropa klasik. Dinding, ornamen, dan furniturnya bernuansa emas.
Barang-barang bermerek nan mahal mengepung tubuh pasangan ini--seperti koleksi mantel Chanel dan tas Hermes.

Mereka getol pelesiran mewah, keliling dunia. Sekali jalan-jalan, uang ratusan juta rupiah habis terkuras. Saat ke Inggris, uang yang dihabiskan untuk sewa apartemen bintang lima di London saja mencapai Rp 83 juta.
Sumber itu meyakini uang foya-foya mereka berasal dari duit yang disetorkan jemaah.

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan aliran dana jemaah umrah hingga triliunan rupiah masuk ke rekening First Travel.

Kepala PPATK Kiagus Ahmad Badarudin mengatakan, pihaknya secara proaktif memantau transaksi keuangan First Travel sejak Juni 2017. Mereka menelusuri pergerakan transaksi keuangan dalam periode 2011 hingga Juni 2017.

Meski penelusuran belum 100 persen rampung, Kiagus menyebut, ada indikasi tak semua uang tersebut dipakai untuk kepentingan umrah jemaah.

"Ada yang digunakan untuk membeli barang dan jasa yang bersangkutan sendiri," katanya.

Kiagus mengatakan aset yang dibeli dari aliran uang itu berupa mobil mewah, rumah, hingga barang-barang pribadi seperti tas juga sepatu. "Juga pembelian pakai kartu kredit yang besar setiap bulannya."

Kuasa hukum korban First Travel, Aldwin Rahadian, juga mengatakan mendapatkan informasi ada uang jemaah dalam jumlah besar yang dipakai untuk belanja, saat Andika-Anniesa berkeliling ke 15 negara.

"Ada dua toko, dari satu toko geser ke toko lainnya. Uang yang dihabiskan Rp 1,7 miliar, kemungkinan belanja pernak-pernik, misalnya tas," kata dia.

Sejauh ini, polisi telah menyita sejumlah aset pemilik First Travel, yakni dua rumah mewah di kawasan Sentul, Bogor dan Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kemudian ada bangunan perkantoran First Travel di Cimanggis, Depok, Jawa Barat dan sebuah butik di kawasan Kemang, Jakarta.

Andika-Anniesa juga diketahui memiliki restoran di London, yang mereka beli senilai 700 ribu poundsterling alias Rp12 miliar lebih.

Modus operandi First Travel dalam menjalankan bisnisnya ditengarai menggunakan skema ponzi. Biaya keberangkatan calon jemaah umrah ditutupi oleh dana calon jemaah umrah lainnya.

"Ada kemungkinannya," ujar Ketua Satgas Waspada Investasi OJK, Tongam L. Tobing.

Dia menuturkan pihak First Travel mengakui ada semacam subsidi dalam program umrah murah First Travel.

Permintaan maaf

Lewat Kepala Divisi Legal First Travel, Deski, Andika dan Anniesa menyampaikan permohonan maaf kepada para calon jemaah umrah yang menggunakan jasa mereka.

"Ya intinya permohonan maaf kepada seluruh jemaah. Kami memiliki banyak kesalahan, kami belum bisa memberangkat seluruh jemaah, sesuai dengan keinginan," kata dia saat dihubungi Liputan6.com.

Deski menambahkan kliennya sedang menempuh jalur hukum. Satu di antaranya dengan menghadapi gugatan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) yang diajukan para calon jemaah.

Pengadilan memutuskan First Travel berutang kepada jemaah dan wajib membuat proposal pedamaian dengan berkomitmen memberangkatkan umrah atau membayar uang pengganti. Apabila dalam 270 hari proposal perdamaian tidak disetujui, maka First Travel dianggap pailit.

Selain itu, Deski mengatakan bahwa First Travel akan mengajukan gugatan ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTUN) terkait keputusan Kementerian Agama yang mencabut izin First Travel.

Yang paling utama, mereka akan mengajukan penangguhan penahanan bagi Andika dan Anniesa. "Agar Bapak Andika atau Ibu Anniesa bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya, termasuk memberangkatkan jemaah," katanya, lagi.

Menurut Deski, berdasarkan data First Travel, saat ini ada 30 ribu lebih jamaah yang masih berharap berangkat ke Tanah Suci.

"Yang melaporkan itu 1.250 orang, tapi yang masih yakin dan berharap berangkat sekitar 30 ribu jemaah," kata dia. "Kalau dari pihak kepolisian kan menghitungnya dari uang. Tapi kalau kami dari data manifes."

Deski mengatakan, kliennya yang kini telah berstatus tersangka masih memiliki nawaitu untuk memberangkatkan puluhan ribu calon jemaah ke Tanah Suci. Sebab, mereka menganggap kewajiban ini sebagai utang yang harus dipenuhi. "Menurut Andika, ini utang dunia akhirat."


Baca juga Artikel - artikel Keren & Terupdate kami lainnya di :


    Wordpress.com : Solid Gold
    Weebly.com : PT Solid Gold Berjangka
    Blogdetik.com : Solid Gold
    Strikingly.com : Solid Gold Berjangka
    Wixsite.com :Solid Gold
    jigsy.com : PT Solid Gold Berjangka
    Spruz.com : Solid Gold Berjangka
    Bravesite.com : PT Solid Gold Berjangka

Posted By PT Solid Gold Berjangka Pusat 11.17