Selasa, 29 November 2016

Agus-Sylvi Salip Ahok-Djarot ke Posisi Puncak Survei | SOLID GOLD

PT SOLID GOLD BERJANGKA - Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak digelar Februari 2017 mendatang.


Saat ini semua pasangan kepala daerah tengah mengikuti masa kampanye termasuk calon gubernur (cagub) & calon wakil gubernur (cawagub) DKI Jakarta.

Ada tiga pasangan cagub-cawagub yg ikut meramaikan pilkada serentak tahun depan.

Yakni pasangan Agus Yudhoyono-Sylviana di nomor urut satu, pasangan Basuki Tjahaja Purnama- Djarot Saiful Hidayat di nomor urut dua, & pasangan Anies Baswedan- Sandiaga Uno di nomor urut tiga.

Sebelum masa tenang, lembaga survei berlomba-lomba memaparkan hasil survei yg mereka lakukan terkait peluang menang cagub-cawagub.

Survei terakhir dilakukan Lembaga Poltracking Indonesia terhadap tiga pasangan cagub-cawagub DKI Jakarta.

Survei tersebut melibatkan 1.200 orang, dilakukan selama 10 hari, yakni 7 - 17 November, dgn margin of error sebesar 2,8 persen & tingkat kepercayaan masyarakat 95 persen.

Hasilnya, elektabilitas pasangan Agus-Sylvi mampu menyalip petahana Ahok-Djarot.

Padahal sebelum-sebelumnya, Ahok-Djarot selalu unggul masih sangat tipis dari dua pesaingnya.

"Temuan survei ini belum bisa memprediksi siapa pemenang DKI Jakarta, tapi elektabilitas Agus-Sylvi 27,92 persen, Basuki- Djarot 22,00 persen, & Anies-Sandi 20,42 persen," ujar Direktur Eksekutif & Riset Poltracking Indonesia, Hanta Yuda.

Pada survei itu Hanta juga memberi simulasi pertarungan Pilgub secara head to head.

Dari hasil simulasi itu menunjukkan pasangan petahana Basuki-Djarot masih kalah suara dari pasangan Agus-Sylvi yg hanya meraih suara 24,83 persen, sedangkan pasangan Agus-Sylvi meraih 45,92 persen.

Akan tetapi dari pertarungan kedua pasangan tersebut masih ada 29,25 persen suara yg belum memutuskan (undecided voters).

Suara diperoleh Agus-Sylvi juga tetap kokoh jika disimulasikan Pilgub dgn pasangan Anies-Sandi.

Pasangan yg diusung poros Cikeas itu meraih suara 37,75 persen, sedangkan pasangan Anies-Sandi meraih suara 28,08 persen dgn undecided voters sebesar 34,17 persen.

"Untuk head to head pasangan nomor 2 & 3, Ahok-Djarot masih kalah suara, pasangan nomor urut 3 memiliki suara 39,92 persen, untuk nomor urut 2 sebesar 25,75 persen, dgn undecided voters 34,33 persen," pungkasnya.

Sebenarnya, menurunnya elektabilitas Ahok- Djarot sudah dirasakan sejak lama.

Utamanya sejak Ahok tersandung kasus dugaan penistaan agama karena menyinggung Surah Al Maidah ayat 51.

Sebelum Poltracking merilis hasil penelitian mereka, lembaga survei LSI Denny JA pada awal November lalu menyatakan tingkat elektabilitas pasangan Ahok-Djarot kian merosot.

Survei dilakukan dari tanggal 31 Oktober hingga November 2016 dgn responden 440 diwawancara secara tatap muka menggunakan metode Multi Stage Random Sampling, dgn margin of error 4,8 persen.

Berdasarkan data LSI tingkat elektabilitas Ahok-Djarot bulan November 2016 hanya sekitar 24,6 persen.

Angka itu jauh menurun jika melihat hasil survei pada bulan Maret 2016 yg mencapai 59,3 persen.

"Dari hasil ini memang kita lihat bahwa tren nya incumbent yaitu Pak Ahok & Pak Djarot cenderung menurun. Ini sebetulnya sedikit banyak bisa memotret perkembangan terbaru dari isu-isu yg berkembang terutama seputar kasus dugaan penistaan agama & demo tanggal 4 November kemarin," jelasnya di saat diskusi yg di gelar di LSI, Rawamangun, Jakarta Timur.

Meskipun elektabilitas pasangan nomor urut dua itu merosot, angka tersebut masih unggul tipis dibandingkan tingkat keterpilihan dua pasangan Cagub & Cawagub lainnya.

Saat ini, elektabilitas pasangan Agus-Silvi berada di angka 20,9 persen, sedangkan Anies-Sandi 20,0 persen.

Sementara masih terdapat 34,5 persen swing voter.

Baca Juga :  ISIS Bikinan Israel, Osama Bin Laden ‘Agen CIA’ | SOLID GOLD
http://bit.ly/2fvHdNK

"Saat ini memang selisih antara Pak Ahok dgn kandidat lainpun sudah sangat tipis. Sehingga dgn asumsi ini memang pertarungan Pilkada DKI ini makin ketat, asumsi Pilkada dua putaran juga semakin kuat," kata dia.

Lebih lanjut ia mengatakan, salah satu penyebab utama menurunnya elektabilitas Ahok-Djarot adalah berkurangnya jumlah pemilih muslim di ibu kota yg jumlahnya mencapai 90,90 persen.

"Kenapa suara Ahok turun, salah satu nya adalah dari segmen pemilih muslim. Di Oktober kemarin, Ahok di pemilih muslim masih di angka kurang lebih 27 persen, sekarang hanya di angka 18 persen," bebernya.

Menanggapi dua hasil survei terbaru soal peluang keterpilihan mereka sebagai gubernur pada Februari 2017 mendatang, baik Agus & Ahok coba menjawab diplomatis.

Agus bersyukur elektabilitasnya bersama pasangan Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Sylviana Murni yg terus meningkat.

Kendati begitu, Agus tidak ingin lengah.

"Sama ketika saya melihat survei-survei lainnya. Tentu saya mensyukuri kalau ada angka yg baik. Tetap bagi saya tidak saya jadikan sesuatu yg membuat kami lengah," terangnya kepada wartawan di Pasar Serdang, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Menurutnya, hasil survei yg baik justru harus menambah semangat untuk terus mendulang suara & menang pada Pilkada DKI Jakarta pada Februari mendatang.

Itu sebabnya, dia terus meningkatkan konsolidasi dgn tim pemenangannya.

"Justru sebaliknya, saya tetap dari awal mengatakan kita ini harus berjuang sekeras-kerasnya. Anggap saja kita ini masih ketinggalan sehingga kita harus berlari kencang berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan elektabilitas," jelas Agus.

Terpisah, Ahok melihat turunnya elektabilitas ini sebagai cambukan buat tim pemenangan juga dirinya & Djarot untuk bekerja lebih keras lagi.

Meski dirinya pribadi tak mau terlalu banyak melakukan apa-apa karena memilih menunjukkan bukti bukan mengumbar janji.

"Bagi petahana itu tinggal melihat program kerja yg ada saja. Kita enggak lihat apa-apa. Kalau penantangkan tinggal bilang saya mau, saya akan, saya mau saya akan tapikan kami kan gak bisa mengelak. Kamu tinggal lihat aja kinerjanya apa," terangnya.

Dia mengklaim dari hasil penelitian masih banyak warga Jakarta yg menganggap bahwa kinerjanya sebagai Gubernur DKI Jakarta dapat memuaskan mereka.

"Kita lihat tingkat kepuasan hasil kerja kitakan masih 73 persen lebih. Jadi kalau orang gak mau pilih, memang kata pengamat ada sedikit anomali. kita gak tahu anomalinya apa. kita tunggu aja 15 Februari," jelas Ahok.

Lantas, akankah pada survei-survei selanjutnya elektabilitas Ahok-Djarot semakin tertinggal jauh dari dua pesaingnya?

Apalagi setelah menyandang status tersangka?

(Prz - Solid Gold)

0 komentar :

Posting Komentar